JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS
NILAI-NILAI KEBAJIKAN
SEBAGAI PEMIMPIN
Rosdiana Shadiqin, S.Pd
CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu
Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania
Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana
Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara
Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan
tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi
modul 3.1 yaitu tentang Pengambilan
Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin.
Jurnal Dwi Mingguan
merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi
diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis
secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini
saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 3.1 dengan model Refleksi 4 F ( Facth,
Feeling, Findings, dan Future ).
Berikut ini adalah
uraiannya satu persatu :
1.
Facts
(Peristiwa )
Dan kali ini saya akan coba merefleksi
pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning
Management System (LMS). Kegiatan dimulai dengan Pre Test seperti pada modul
sebelumnya yaitu pada tanggal 1 Februari 2024 .Setelah menyelesaikan Pre Test,
langkah selanjutnya adalah memasuki alur MERDEKA. Pada tahap ini, saya
merespons pertanyaan yang memicu pemahaman mengenai kutipan dari Bapak Menteri
Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi mengenai tanggung jawab
kepemimpinan. Kemudian, di alur MERDEKA, langkah selanjutnya adalah
mengeksplorasi konsep. Pada alur Eksplorasi Konsep calon guru penggerak belajar
secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru
penggerak juga diminta untuk mendalami konsep pengambilan keputusan dengan
nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Disini kami mempelajari kasus dilema
etika dan bujukan moral dan kami mengisi pertanyaan agar kelak kami terbiasa
melaksanakan pengambilan keputusan. Kegiatan ekplorasi konsep juga diakhiri
dengan forum diskusi dimana kami melakukan analisa terhadap 2 kasus yang ada di
LMS.
Tahap
eksplorasi konsep terdiri dari dua kegiatan. Pertama, saya mengeksplorasi
pengetahuan sendiri melalui membaca, memberikan komentar, menjawab pertanyaan,
dan menganalisis kasus seputar 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam
pengambilan dan pengujian keputusan.
Pada
alur selanjutnya yaitu Ruang Kolaborasi.
Fasilitator kami yaitu Ibu Nartianis membagi kami kedalam 3 kelompok. Saya bersama
3 rekan saya yaitu Ibu Maya , dan Bu Dila . Pada sesi pertama Forum ruang
Kolaborasi tanggal 8 Februari 2024 kami melakukan Vicon melalui Gmeet dengan melakukan
diskusi kelompok . Pada sesi pertama ini kami diskusi untuk membahas salah satu
kasus rekan kelompok kami terkait kasus dilema etika yang terjadi di sekolahnya
. Pada sesi 2 ruang kolaborasi tanggal 9 Februari 2024 kami mempresentasikan
hasil diskusi kelompok terkait kasus dilema etika salah satu rekan yang sudah
kami bahas pada sesi 1 dan kelompok lain memberikan pertanyaan maupun masukan.
Selanjutnya hasil diskusi yang sudah dipresentasikan dan sudah di perbaiki
apabila ada masukan atau koreksi dari kelompok lain, kami unggah di LMS CGP
Tugas Ruang Kolaborasi .
Demonstrasi Kontekstual diadakan pada tanggal 10
dan 11 Februari 2024 .Dimana kami ditugaskan untuk melakukan
wawancara kepada 2-3 kepala sekolah mengenai kasus dilema etika yang terjadi
disekolah kepala sekolah tersebut . Kebetulan saya melakukan wawancara dengan 2
Kepala sekolah. Yaitu Ibu Warnetti Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Tambusai
Utara dan Bapak Panusunan sebagai Kepala
sekolah SMP Negeri 9 Tambusai Utara . Alasan saya mewawancarai kedua kepala
sekolah SMP ini adalah karena sekolah tersebut dekat jaraknya dengan tempat
tinggal saya maupun dengan sekolah . Sehingga memudahkan saya untuk mengadakan
wawancara . Setelah selesai tugas tersebut langsung saya unggah di LMS .
Selanjutnya
adalah Elaborasi Pemahaman pada tanggal 12 Februari 2024 yang diawali
dengan membuat pertanyaan di LMS agar pada saat Vicon Instruktur dapat menjawab
pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya . Dilanjutkan dengan hari berikutnya tanggal 13 Februari seluruh CGP
dari Propinsi Riau mengiktui Vicon Elaborasi Pemahaman bersama instruktur Ibu
Nora Viviani seorang pengajar sama seperti kami yang memberikan
pencerahan dalam pengambilan keputusan yang berbasis nilai kebajikan. Selama
proses vicon tersebut kami merasa tercerahkan .
Alur
selanjutnya adalah Koneksi Antar Materi,
yang isinya mengaitkan materi pengambilan keputusan yang berbasis nilai
kebajikan sebagai pemimpin dengan materi yang telah dipelajari pada modul-modul
sebelumnya.
Alur
yang terakhir adalah Aksi Nyata. Dimana pada aksi nyata ini calon guru
penggerak diminta untuk mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma,
prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP dan akan mendiskusikan
pengalaman dan refleksi dari aksi nyata tersebut nantinya bersama dengan
pengajar praktik pada saat pendampingan individu ke-5. Dimana pada pendampingan
individu ke 5 tersebut Ibu pengajar praktik akan datang berkunjung ke sekolah .
2.
Feelings (Perasaan)
Perasaan
saya diawal mempelajari modul 3.1 ini saya merasa bahwa dalam kegiatan
pengambilan keputusan ini merupakan kegiatan yang sudah sering saya lakukan di sekolah.
Karena saya memang sering menghadapi masalah yang terjadi pada siswa. Selain
itu saya juga pastinya pernah mengalami masalah yang mana menjadi dilema dan
sering berbenturan dengan adanya kepentingan lain. Nah saya sudah membayangkan
bila saya menjadi pemimpin kelak , tentunya
akan sangat berat dalam mengambil
keputusan dalam konteks dilema etika. Disisi lain saya merasa sangat senang dan
tentunya bangga karena mendapat kesempatan mempelajari modul ini . Dimana dalam
modul ini karena saya dapat belajar tentang pengambilan keputusan dalam konteks
dilema etika dan yang paling menantang adalah bahwa saya mempunyai kesempatan
mewawancarai 2 kepala sekolah. Dan ketika wawancara tersebut berlangsung
bagaimana kedua kepala sekolah tersebut dalam mengambil keputusan terkait dengan kasus
dilema etika. adapun wawancara yang telah saya lakukan terhadap 2 kepala
sekolah tersebut yaitu bahwa ternyata jawaban mereka hampir sama karena kasus
yang dihadapi juga hampir sama . Yaitu kedua pimpinan tersebut selalu
berkolaborasi dengan berbagai pihak sebelum memutuskan suatu kasus. Mereka
selalu melibatkan pihak-pihak terkait. Dan dalam pengambilan keputusan selalu
berpihak pada murid. Intinya keputusan yang diambil tidaklah merugikan murid.
3.
Findings (Pembelajaran)
Adapun
pembelajaran yang saya dapatkan dalam modul 3.1 yaitu ada baiknya kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu
apa saja permasalahan yang dihadapi , apakah termasuk dilema etika atau bujukan
moral. Artinya harus kita klasifikasikan dulu bahwa masalah itu masuk kemana .
Apakah dilema etika atau bujukan moral . Nah jika termasuk dalam dilema etika,
maka 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9
langkah pengambilan dan pengujian keputusan perlu diterapkan. Hal yang paling
penting dalam pengambilan keputusan adalah bahwa keputusan yang dihasilkan harus
berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal, berpihak pada murid dan tentunya
dapat dipertanggungjawabkan. Itulah mengapa perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak yang
terlibat. Selain itu ada hal yang menurut saya di luar dugaan adalah bahwa opsi
trilema harus memunculkan solusi kreatif dalam pengambilan sebuah keputusan. Dan
perlu diterapkan juga dalam pengambilan keputusan ada beberapa prinsip yang
mendasari seseorang dalam mengambil keputusan yaitu: (1) Berpikir berbasis
akhir (End based thinking), (2) Berpikir berbasis peraturan (Rule based
thinking) dan (3) Berpikir berbasis rasa peduli (Care based thinking).
4.
Future (Penerapan)
Penerapan
kedepannya adalah jika saya menghadapi permasalahan dilema etika maupun bujukan
moral, maka saya akan terlebih dahulu melakukan tahapan-tahapan pengambilan
keputusan sesuai yang sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah
pengambilan dan pengujian keputusan dengan lebih lengkap termasuk pengujian dan
investigasi opsi trilemma. Adapun cara mengukur efektivitas pengambilan
keputusan adalah dengan melakukan pengujian benar-salah, melakukan refleksi
atas keputusan yang telah dibuat, serta meminta saran dan masukan dari pihak
lain yang terkait dalam pengambilan keputusan agar keputusan yang saya
ambil bernilai kebajikan universal, berpihak pada murid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar