Sabtu, 16 Maret 2024

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3

 

JURNAL REFLEKSI  DWI MINGGUAN

MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 3.3  yaitu Pengelolaan Program Yang Berdampak Positif Pada Murid .

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 3.3 dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut ini adalah uraiannya satu persatu :

1.    Facts (Peristiwa )

Baiklah kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan pertama dimulai dengan mulai dari diri. Modul 3.3 ini merupakan modul terakhir atau penutup dalam Pendidikan Guru Penggerak ini.  Modul ini berisi pengelolaan program yang berdampak positif pada murid . Kemudian, di alur MERDEKA, yang dimulai Mulai dari diri. Dalam tahap ini, CGP diperkenalkan dengan pertanyaan awal mengenai program yang berdampak pada murid dan hubungannya dengan student agency. Modul kemudian membahas cara menyusun program yang memberikan dampak positif pada murid serta bagaimana meningkatkan student agency dengan mempertimbangkan aspek-aspek penting seperti suara, pilihan, dan kepemilikan. Selain itu, modul juga mengupas isu tentang lingkungan yang mendukung perkembangan kepemimpinan murid dan keterlibatan komunitas dalam memfasilitasi perkembangan ini. Pada forum diskusi eksplorasi konsep, beberapa CGP berbagi pengalaman mereka terkait program-program yang telah dijalankan di sekolah mereka yang berdampak positif pada murid, sementara yang lain memberikan umpan balik dan diskusi terkait hal tersebut.

 

2. Feelings (Perasaan)

 

Perasaan saya diawal mempelajari modul 3.3 ini saya merasa sangat terinspirasi dengan materi pembelajaran yang membahas tentang program yang berdampak positif pada murid . Saya juga merasa bahagia karena sudah berada di akhir modul . rasanya bercampur menjadi satu karena selam ini sudah penuh dengan perjuangan hingga sampai di modul akhir ini .  Menjadi seorang pemimpin itu ternyata harus memiliki pengetahuan yang mumpuni agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik . Saya juga merasa antusias untuk segera mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapat dari modul ini untuk praktek mengajar saya selanjutnya . Selanjutnya saya merasa sangat tertantang sebagai pemimpin pembelajaran untuk mampu membawa perubahan yang positif di sekolah saya .

Apalagi saat sudah sampai pada eksplorasi konsep ada rasa lega dalam hati dan tidak menyangka sama sekali . Lebih-lebih ketika kami ruang kolaborasi terkahir bersama Ibu fasilitator hebat kami Ibu Nartianis . Di penghujung ruang kolaborasi ada rasa haru ketika saya mengucapkan persaan yang saya rasakan selama mengikuti pembelajaran dengan Ibu Nartianis. Bahagia karena kami sudah sampai finish dan perasaan haru dan sedih karena tidak berjumpa lagi mengikuti pembelajaran bersama Ibu Fasilitator dan teman CGP di Ruang Kolaborasi dan Elaborasi .

3. Findings (Pembelajaran)

Adapun pembelajaran yang saya dapatkan dalam modul 3.3 yaitu :  

1.    Memperluas wawasan saya dalam merencanakan dan merancang kegiatan yang berpotensi memberikan dampak positif pada murid. Yang tujuannya adalah untuk mengembangkan kepemimpinan murid atau student agency. Untuk mencapai dampak positif ini, penting untuk mempertimbangkan aspek-aspek seperti suara (voice) dan pilihan (choice) yang dimiliki oleh murid, sehingga mereka dapat merasa memiliki (ownership) terhadap kegiatan tersebut.

2.    Dalam perancangan program yang akan memberikan dampak positif pada murid, tahap awal yang penting adalah melakukan pemetaan aset atau sumber daya yang dimiliki oleh sekolah secara cermat. Dengan langkah ini, program dapat dioptimalkan dengan lebih baik, mengurangi hambatan yang mungkin timbul, dan berkontribusi pada pencapaian visi dan misi sekolah. Pemetaan aset adalah langkah penting dalam memastikan kesuksesan program yang berfokus pada murid.

 

4.    Future (Penerapan)

Rencana kedepannya yang akan saya lakukan adalah:

1.    Saya akan melakukan kolaborasi segera bersama dengan  rekan dan murid-murid saya di sekolah

2.    Kemudian berbagi ilmu atau berbagi praktik baik dengan rekan sejawat atau murid untuk secara bersama-sama merancang program atau kegiatan yang dapat menumbuhkan kepemimpinan murid

3.    Ada 3 aspek yang harus diperhatikan ketika akan merancang atau membuat suatu program di sekolah . Yaitu  suara (voice),  pilihan (choice) dan kepemilikan (ownership ) murid .

 

Dengan mendengarkan suara dan pilihan murid maka  program tersebut dapat berdampak bagi murid dan menumbuhkan rasa kepemilikan (ownership) pada diri murid terhadap apa yang sudah dirancang secara bersama-sama. Sehingga harapannya apa yang sudah diprogramkan dapat terlaksana dengan baik dan berjalan lancar . Apapun program yang akan dilaksanakan di sekolah intinya murid harus dilibatkan dengan tetap memperhatikan tiga aspek yang telah disebutkan tadi .

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.2 - Pemimpin Dalam Pengelolaan Sumber Daya

                                           JURNAL REFLEKSI  DWI MINGGUAN

MODUL 3.2 PEMIMPIN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 3.2  yaitu tentang Pengambilan Dalam Pengelolaan Sumber Daya.

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 3.2  dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut ini adalah uraiannya satu persatu :

1.    Facts (Peristiwa )

Baiklah kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan pertama dimulai dengan mulai dari diri tepatnya tanggal 15 Februari 2024. Yaitu Menggali Pemahaman Awal Tentang Ekosistem dan Kepemimpinan Sekolah . Kemudian, di alur MERDEKA, langkah selanjutnya adalah Eksplorasi konsep. Pada alur Eksplorasi Konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk mendalami konsep terkait dengan sekolah sebagai ekosistem, Pendekatan berbasis kekurangan dan kekuatan / aset , pendekatan ABCD ( Asset Based Community Development ) , Karakteristik komunitas yang sehat , pengalaman rapat dan mendiskusikan murid, kasus 1 dan 2 tentang rapat guru .

Pada alur selanjutnya  yaitu Ruang Kolaborasi. Fasilitator kami yaitu Ibu Nartianis membagi kami kedalam 3 kelompok. Saya bersama 3 rekan saya yaitu Ibu Maya , Ibu septy dan Bu Dila . Pada sesi pertama Forum ruang Kolaborasi tanggal 19 Februari 2024 kami melakukan Vicon melalui Gmeet dengan melakukan diskusi kelompok . Pada sesi pertama ini kami diskusi untuk membahas tentang Identifikasi Aset Utama di Daerah Tambusai Utara. Pada sesi 2 ruang kolaborasi tanggal 20 Februari 2024 kami mempresentasikan hasil diskusi kelompok terkait tentang Identifikasi Aset Utama di Daerah Tambusai Utara yang sudah kami bahas pada sesi 1 dan kelompok lain memberikan pertanyaan maupun masukan. Selanjutnya hasil diskusi yang sudah dipresentasikan dan sudah di perbaiki apabila ada masukan atau koreksi dari kelompok lain, kami unggah di LMS CGP Tugas Ruang Kolaborasi .

Demonstrasi Kontekstual diadakan pada tanggal 22 Februari 2024 . Dimana kami ditugaskan untuk menelaah visi dan prakarsa perubahan dalam video yang ada di LMS selanjutnya  mengidentifikasi kegiatan-kegiatan BAGJA dan menganalisis modal utama yang dapat dimanfaatkan.  Setelah selesai tugas tersebut langsung saya unggah di LMS .

Selanjutnya adalah Elaborasi Pemahaman  yang diawali dengan membuat pertanyaan di LMS agar pada saat Vicon Instruktur dapat menjawab pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya . Dilanjutkan dengan hari  berikutnya tanggal 26 Februari 2024. seluruh CGP dari Propinsi Riau mengiktui Vicon Elaborasi Pemahaman bersama instruktur Ibu Nora Viviani  seorang  pengajar sama seperti kami yang memberikan pencerahan pemimpin dalam pengelolaan sumber daya . Selama proses vicon tersebut kami merasa tercerahkan .

 Alur selanjutnya  adalah Koneksi Antar Materi, yang isinya mengaitkan materi tentang pemimpin dalam pengelolaan sumber daya dengan materi yang telah dipelajari pada modul-modul sebelumnya.

Alur yang terakhir adalah Aksi Nyata. Dimana pada aksi nyata ini calon guru penggerak diminta untuk mengidentifikasi sumber daya sebagai aset / kekuatan sekolah dan melakukan pemetaan sumber daya secara kolaboratif . Dan tidak lupa mendokumentasikan proses dan hasil .

2. Feelings (Perasaan)

 

Perasaan saya diawal mempelajari modul 3.2 ini saya merasa sangat terinspirasi dengan materi pembelajaran yang membahas tentang bagaimana pemimpin pembelajaran dapat menciptakan budaya belajar yang positif dan kondusif di sekolah, pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin dengan menggunakan strategi pendekatan berbasis aset. Karena pada awalnya saya mengira kalau aset itu hanyalah sarana dan prasarana sekolah saja, namun ternyata ada 7 aset yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin . Menjadi seorang pemimpin itu ternyata harus memiliki pengetahuan yang mumpuni agar dapat menjalankan tugasnya dengan baik . Saya juga merasa antusias untuk segera mengaplikasikan ilmu yang telah saya dapat dari modul ini untuk praktek mengajar saya selanjutnya . Selanjutnya saya merasa sangat tertantang sebagai pemimpin pembelajaran untuk mampu membawa perubahan yang positif di sekolah saya .

3. Findings (Pembelajaran)

Adapun pembelajaran yang saya dapatkan dalam modul 3.2 yaitu :  

Setelah melakukan sesi pembelajaran Ruang Kolaborasi Sesi 1 pada modul ini, ternyata ada banyak hal positif yang telah saya peroleh sebagai hasil dari belajar saya. Modul ini telah membuka mata saya bahwa ternyata untuk menggunakan kekuatan/aset sebagai tumpuan berpikir dengan memusatkan perhatian pada apa yang berjalan dengan baik, yang menjadi inspirasi, yang menjadi kekuatan ataupun potensi yang positif. Intinya kita diwajibkan untuk mengubah paradigma/pola pikir kita yang cenderung menggunakan pendekatan berbasis kekurangan/masalah (Deficit Based Thinking). Selanjutnya kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu apa saja aset / modal yang ada di sekolah kita agar kita mengetahui apa saja modal yang kita miliki dan pemanfaatnnya menjadi lebih efektif ke depan .

4. Future (Penerapan)

Setelah memahami pembelajaran di modul ini harapan saya ke depan saya  dapat menerapkan pendekatan pengembangan komunitas berbasis aset (Asset-Based Community Development/ABCD) dengan ditandai perubahan pola pikir (mindset) dan sikap positif sebagai langkah awal. Dimana penerapan modul ini akan dapat membantu sekolah dalam membangun ekosistem yang mampu merangsang pertumbuhan dan perkembangan murid demi terwujudnya Profil Pelajar Pancasila . Karena perlu diingat bahwa keberhasilan sebuah proses dari sebuah pembelajaran sangat tergantung pada cara pandang sekolah melihat ekosistemnya. Semoga saya pribadi mampu menjadi agen perubahan di sekolah saya khususnya. Dan langkah selanjutnya adalah:

1.    mengadakan praktik baik kepada rekan sejawat agar mereka juga mempunyai ilmu untuk memaksimalkan potensi yang mereka punya agar proses pembelajaran juga menjadi lebih baik dari sebelumnya .

2.    Memberikan pengetahuan dan keterampilan yang penting untuk menjadi pemimpin yang efektif dalam mengelola sumber daya.

3.    Pentingnya kolaborasi dengan semua pihak untuk mencapai tujuan bersama.

      

4.  Pembelajaran yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan dalam mengelola sumber daya.

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.1 - Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai - Nilai Kebajikan sebagai Pemimpin

 

 

JURNAL REFLEKSI  DWI MINGGUAN

MODUL 3.1 PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN

SEBAGAI PEMIMPIN

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 3.1  yaitu tentang Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan Sebagai Pemimpin.

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 3.1  dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut ini adalah uraiannya satu persatu :

1.    Facts (Peristiwa )

 Dan kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dengan Pre Test seperti pada modul sebelumnya yaitu pada tanggal 1 Februari 2024 .Setelah menyelesaikan Pre Test, langkah selanjutnya adalah memasuki alur MERDEKA. Pada tahap ini, saya merespons pertanyaan yang memicu pemahaman mengenai kutipan dari Bapak Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Ristek, dan Teknologi mengenai tanggung jawab kepemimpinan. Kemudian, di alur MERDEKA, langkah selanjutnya adalah mengeksplorasi konsep. Pada alur Eksplorasi Konsep calon guru penggerak belajar secara mandiri melalui materi-materi yang disajikan dalam forum LMS, calon guru penggerak juga diminta untuk mendalami konsep pengambilan keputusan dengan nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Disini kami mempelajari kasus dilema etika dan bujukan moral dan kami mengisi pertanyaan agar kelak kami terbiasa melaksanakan pengambilan keputusan. Kegiatan ekplorasi konsep juga diakhiri dengan forum diskusi dimana kami melakukan analisa terhadap 2 kasus yang ada di LMS.

Tahap eksplorasi konsep terdiri dari dua kegiatan. Pertama, saya mengeksplorasi pengetahuan sendiri melalui membaca, memberikan komentar, menjawab pertanyaan, dan menganalisis kasus seputar 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan.

Pada alur selanjutnya  yaitu Ruang Kolaborasi. Fasilitator kami yaitu Ibu Nartianis membagi kami kedalam 3 kelompok. Saya bersama 3 rekan saya yaitu Ibu Maya , dan Bu Dila . Pada sesi pertama Forum ruang Kolaborasi tanggal 8 Februari 2024 kami melakukan Vicon melalui Gmeet dengan melakukan diskusi kelompok . Pada sesi pertama ini kami diskusi untuk membahas salah satu kasus rekan kelompok kami terkait kasus dilema etika yang terjadi di sekolahnya . Pada sesi 2 ruang kolaborasi tanggal 9 Februari 2024 kami mempresentasikan hasil diskusi kelompok terkait kasus dilema etika salah satu rekan yang sudah kami bahas pada sesi 1 dan kelompok lain memberikan pertanyaan maupun masukan. Selanjutnya hasil diskusi yang sudah dipresentasikan dan sudah di perbaiki apabila ada masukan atau koreksi dari kelompok lain, kami unggah di LMS CGP Tugas Ruang Kolaborasi .

Demonstrasi Kontekstual diadakan pada tanggal 10 dan 11 Februari 2024 .Dimana kami ditugaskan untuk melakukan wawancara kepada 2-3 kepala sekolah mengenai kasus dilema etika yang terjadi disekolah kepala sekolah tersebut . Kebetulan saya melakukan wawancara dengan 2 Kepala sekolah. Yaitu Ibu Warnetti Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Tambusai Utara  dan Bapak Panusunan sebagai Kepala sekolah SMP Negeri 9 Tambusai Utara . Alasan saya mewawancarai kedua kepala sekolah SMP ini adalah karena sekolah tersebut dekat jaraknya dengan tempat tinggal saya maupun dengan sekolah . Sehingga memudahkan saya untuk mengadakan wawancara . Setelah selesai tugas tersebut langsung saya unggah di LMS .

Selanjutnya adalah Elaborasi Pemahaman pada tanggal  12 Februari 2024 yang diawali dengan membuat pertanyaan di LMS agar pada saat Vicon Instruktur dapat menjawab pertanyaan yang sudah dibuat sebelumnya . Dilanjutkan dengan hari  berikutnya tanggal 13 Februari seluruh CGP dari Propinsi Riau mengiktui Vicon Elaborasi Pemahaman bersama instruktur Ibu Nora Viviani  seorang  pengajar sama seperti kami yang memberikan pencerahan dalam pengambilan keputusan yang berbasis nilai kebajikan. Selama proses vicon tersebut kami merasa tercerahkan .

 Alur selanjutnya  adalah Koneksi Antar Materi, yang isinya mengaitkan materi pengambilan keputusan yang berbasis nilai kebajikan sebagai pemimpin dengan materi yang telah dipelajari pada modul-modul sebelumnya.

Alur yang terakhir adalah Aksi Nyata. Dimana pada aksi nyata ini calon guru penggerak diminta untuk mempraktikkan proses pengambilan keputusan, paradigma, prinsip, dan pengujian keputusan di sekolah CGP dan akan mendiskusikan pengalaman dan refleksi dari aksi nyata tersebut nantinya bersama dengan pengajar praktik pada saat pendampingan individu ke-5. Dimana pada pendampingan individu ke 5 tersebut Ibu pengajar praktik akan datang berkunjung ke sekolah .

2. Feelings (Perasaan)

 

Perasaan saya diawal mempelajari modul 3.1 ini saya merasa bahwa dalam kegiatan pengambilan keputusan ini merupakan kegiatan yang sudah sering saya lakukan di sekolah. Karena saya memang sering menghadapi masalah yang terjadi pada siswa. Selain itu saya juga pastinya pernah mengalami masalah yang mana menjadi dilema dan sering berbenturan dengan adanya kepentingan lain. Nah saya sudah membayangkan bila  saya menjadi pemimpin kelak , tentunya akan  sangat berat dalam mengambil keputusan dalam konteks dilema etika. Disisi lain saya merasa sangat senang dan tentunya bangga karena mendapat kesempatan mempelajari modul ini . Dimana dalam modul ini karena saya dapat belajar tentang pengambilan keputusan dalam konteks dilema etika dan yang paling menantang adalah bahwa saya mempunyai kesempatan mewawancarai 2 kepala sekolah. Dan ketika wawancara tersebut berlangsung bagaimana kedua kepala sekolah tersebut dalam  mengambil keputusan terkait dengan kasus dilema etika. adapun wawancara yang telah saya lakukan terhadap 2 kepala sekolah tersebut yaitu bahwa ternyata jawaban mereka hampir sama karena kasus yang dihadapi juga hampir sama . Yaitu kedua pimpinan tersebut selalu berkolaborasi dengan berbagai pihak sebelum memutuskan suatu kasus. Mereka selalu melibatkan pihak-pihak terkait. Dan dalam pengambilan keputusan selalu berpihak pada murid. Intinya keputusan yang diambil tidaklah merugikan murid.

 

3. Findings (Pembelajaran)

Adapun pembelajaran yang saya dapatkan dalam modul 3.1 yaitu ada baiknya  kita harus mengidentifikasi terlebih dahulu apa saja permasalahan yang dihadapi , apakah termasuk dilema etika atau bujukan moral. Artinya harus kita klasifikasikan dulu bahwa masalah itu masuk kemana . Apakah dilema etika atau bujukan moral . Nah jika termasuk dalam dilema etika, maka 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan perlu diterapkan. Hal yang paling penting dalam pengambilan keputusan adalah bahwa keputusan yang dihasilkan harus berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal, berpihak pada murid dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan. Itulah mengapa  perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak yang terlibat. Selain itu ada hal yang menurut saya di luar dugaan adalah bahwa opsi trilema harus memunculkan solusi kreatif dalam pengambilan sebuah keputusan. Dan perlu diterapkan juga dalam pengambilan keputusan ada beberapa prinsip yang mendasari seseorang dalam mengambil keputusan yaitu: (1) Berpikir berbasis akhir (End based thinking), (2) Berpikir berbasis peraturan (Rule based thinking) dan (3) Berpikir berbasis rasa peduli (Care based thinking).

 

4. Future (Penerapan)

 

Penerapan kedepannya adalah jika saya menghadapi permasalahan dilema etika maupun bujukan moral, maka saya akan terlebih dahulu melakukan tahapan-tahapan pengambilan keputusan sesuai yang sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan lebih lengkap termasuk pengujian dan investigasi opsi trilemma. Adapun cara mengukur efektivitas pengambilan keputusan adalah dengan melakukan pengujian benar-salah, melakukan refleksi atas keputusan yang telah dibuat, serta meminta saran dan masukan dari pihak lain yang terkait dalam pengambilan keputusan  agar keputusan yang saya ambil bernilai kebajikan universal, berpihak pada murid.

Rabu, 14 Februari 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik






JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 2.3 yaitu tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik.

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 2.3 dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut adalah urainnya satu persatu :

1.    Facts (Peristiwa )

Pada modul 2.3 ini, saya mencoba merefleksikan hasil dari kegiatan yang telah saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi dwi mingguan  ini membahas materi pada Modul 2.3 tentang Coaching Pada Supervisi Akademik . Dimana Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang akan digunakan untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) . Dan kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3 sampai post tes modul 2.

 Ada beberapa aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam modul ini yaitu diawali mulai dari 2.3 mulai dari diri pada tanggal 17 November 2023 dimana saya membuat sebuah buah tulisan  yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya. Kemudian masuk ke eksplorasi konsep pada tanggal 20 November 2023  modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara.

Selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching. Alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi.

Diforum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu Roini melakukan sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang (Bu Septi, saya, dan Bu Dila, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi.

Selanjutnya saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama Bapak Robby Lasman membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Ilmu yang diberikan Pak Robby sa ngat luar biasa sekali bagi kami. Sebelumnya saya masih merasa sedikit bingung dengan coaching itu sendiri berikut proses yang mengikutinya . Namun setelah mengikuti Elaborasi Pemahaman saya semakin tercerahkan dengan apa sih sebenarnya coaching itu.

Dan selanjutnya  saya membuat koneksi antar materi modul 2.3, dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya peroleh dan bagaimana dengan rencana serta langkah ke depannya yang akan saya lakukan.  Seterusnya yaitu membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervisi akademik yang dilakukan dengan teman sejawat dan sampailah  saya melakukan test akhir modul 2 . Test ini berisikan soal-soal yang berhubungan dengan Coaching, teknik serta penerapannya.

2.    Feelings ( Perasaan )

Saya merasa antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran pada mulanya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2.3 ini .  Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik. Dan ternyata itu semua tidaklah mudah bagi saya akan tetapi saya akan tetap berusaha dan belajar terus menerus untyk mengasah ilmu yang telah saya peroleh .

3.    Findings ( Pembelajaran )

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. telah memberikan  saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. Pada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya akan mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantu mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat. Dan semoga kita semua adalah orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan yang baru .

4.    Future (Penerapan )

Sebagai seorang guru, sering sekali saya menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin juga rekan sejawat. Permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu faktor penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan bisa jadi mereka  tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Dan ternyata coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Seterusnya saya berharap nantinya praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehinggapada akhirnya  semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain. Sehingga masing-masing akan mampu menampilkan potensi yang sudah dimiliki dengan langsung mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari,

Selasa, 13 Februari 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

 




JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 2.2 yaitu tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional.

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 2.2 dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut adalah penjelasannya :

1.    Peristiwa (Fact)

Setelah belajar banyak tentang modul 2.1 yang fokus membahas tentang pembelajaran berdeferensiasi berupa serangkaian keputusan masuk akal yang diambil oleh guru dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa. Modul 2.2 fokus pada pembelajaran sosial emosional, sebuah pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dengan seluruh warga sekolah. Dalam modul ini kami belajar tentang pembelajaran KSE (kompetensi sosial emosional) yang harus dimiliki seorang guru dalam mewujudkan well being. Pengkajian di LMS menggunakan alur merdeka, diawali Mulai dari Diri , Explorasi konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata.


Modul 2.2 yang pertama adalah Mulai dari Diri dimulai tepatnya pada tanggal 03 November 2023 lanjut Eksplorasi Konsep pada tanggal 06 November 2023 . Selanjutnya kita mengikuti  ruang eksplorasi konsep dengan  5 kasus di dalamnya, lanjut ruang kolaborasi pada tanggal 8 November 2023 . Adapun yang kami lakukan adalah : 1.  yaitu diskusi kelompok kecil yang masing-masing sesuai jenjang, ada TK, SD, SMP, dan SMA. Diskusi ini membangun pemahaman tentang KSE yang harus dimiliki guru. Selanjutnya kami mengadakan diskusi kelompok besar di ruang kolaborasi 2 yang diadakan pada tanggal 09 November 2023 dengan kegiatan masing-masing kelompok yang sudah ditunjuk per jenjang untuk  mempresentasikan hasil diskusi di kelompok kecil dan dikhiri dengan unggah tugas ruang kolaborasi. setelah itu  demonstrasi kontekstual, eksplorasi pemahaman, koneksi antar materi aksi nyata dan penutup.

2.    Perasaan (Feeling)

Selama belajar modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya merasa sangat senang dan bersemangat mendapatkan ilmu yang luar biasa. Ilmu tersebut saya terapkan baik untuk saya pribadi sebagai seorang guru yang langsung  berhadapan dengan murid-murid dengan berbagai karakter yang berbeda beda. Saat  ini saya menjadi lebih paham untuk bertindak, apa yang seharusnya saya lakukan jika menjumpai kelas yang tidak kondusif. Menumbuhkan iklim dikelas. Awalnya, bagi saya sangatlah tidak mudah,   namun dengan dibekali pembelajaran di modul 2.2, ini ada banyak hal yang tercerahkan. Sehingga lebih mudah untuk mengatasi apabila ada sesuatu hal yang terjadi .

Pembelajaran sosial emosional sangat berpengaruh besar dalam proses belajar mengajar dan berpengaruh terhadap hasil belajar murid (tujuan pembelajaran). Saya selaku pendidik juga telah mengimplementasikan dalam pembelajaran sebagai aksi nyata di kelas maupun lingkungan sekolah kami. Selain itu saya akan berbagi praktek baik terhadap rekan-rekan guru di sekolah dan wilayah setempat. Agar ilmu yang saya peroleh juga bermanfaat bagi sesama rekan guru yang ada . Sehingga nantinya bisa bersama-sama merasakan dampak positif dari ilmu yang diperoleh .  



(Foto : Suasana pembelajaran yang menyenangkan )

3.    Pembelajaran (FINDINGS)

Hal yang sangat bermanfaat bagi guru pada pembelajaran sosial dan emosional yaitu adanya 5 kompetensi sosial dan emosional :

1.    Kesadaran diri

2.    Manajemen diri.

3.    Kesadaran sosial.

4.    Ketrampilan berelasi.

5.    Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Seorang guru mampu mengendalikan emosinya pada situasi bagaimanapun, kapan saja dan dimana saja, Artinya seorang guru juga dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan sosial emosional di sekolah. Guru dituntut agar mempunyai kesadaran penuh (Mindfullness). Sedangkan bagi murid setelah belajar sosial emosional hal yang paling penting mereka dapat mengenali emosional masing masing/mampu berexpresi secara terbuka  dan mampu mengendalikan perasaanya. Murid-murid juga harus terbiasa bersosial terhadap lingkungannya, dan menjadi semangat dalam belajar.





4.    Penerapan (Future)

Umpan balik bagi saya, berupa bisa menerapkan KSE ini dalam pembelajaran exsplisit, terintegrasi dalam RPP , meningkatkan iklim kelas dan PTK di sekolah, sehingga tercapainya pembelajarang yang menyenangkan serta mewujudkan kesejahteraan psikologis anak. Sehingga suasana belajar akan menjadi lebih kondusif dan bahagia. Sebagaimana tujuan dari merdeka belajar itu sendiri.

Yang ingin saya tingkatkan adalah:

·       Saya akan lebih fokus kepada ketrampilan berelasi. Artinya saya akan berkolaborasi dengan siswa-siswa di kelas, pendidik dan tenaga kependidikan dalam membangun iklim kelas dan sekolah. Sehingga mampu membawa perubahan yang positif untuk sekeliling saya .

·       Saya akan merevisi kembali rancangan belajar  dan pelaksanaan pembelajaran dengan mengimplementasikan pembelajaran sosial dan emosional.

 



·       Saya akan sering merefleksikan proses pembelajaran untuk mengukur sudah sejauh mana keberhasilan dari ilmu yang sudah saya terima dan dapat dijadikan perbaikan ke depannya untuk pendidikan yang lebih baik lagi .  

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3

  JURNAL REFLEKSI   DWI MINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID Rosdiana Shadiqin, S.Pd CGP Angkatan ...