Rabu, 14 Februari 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 2.3 Coaching Untuk Supervisi Akademik






JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 2.3 yaitu tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik.

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 2.3 dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut adalah urainnya satu persatu :

1.    Facts (Peristiwa )

Pada modul 2.3 ini, saya mencoba merefleksikan hasil dari kegiatan yang telah saya ikuti di LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi dwi mingguan  ini membahas materi pada Modul 2.3 tentang Coaching Pada Supervisi Akademik . Dimana Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media yang akan digunakan untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) . Dan kali ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari modul 2.3 sampai post tes modul 2.

 Ada beberapa aktivitas pembelajaran yang dilakukan dalam modul ini yaitu diawali mulai dari 2.3 mulai dari diri pada tanggal 17 November 2023 dimana saya membuat sebuah buah tulisan  yang berisikan jawaban dari pertanyaan pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervisi di sekolah saya. Kemudian masuk ke eksplorasi konsep pada tanggal 20 November 2023  modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring, konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara.

Selanjutnya masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip coaching dengan supervisi akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik. Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan TIRTA sebagai alur percakapan coaching. Alur coaching mulai dari Tujuan, Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA, diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi, coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan coaching melakukan kalibrasi.

Diforum diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu Roini melakukan sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6 demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang (Bu Septi, saya, dan Bu Dila, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat pra observasi, saat observasi dan pasca observasi.

Selanjutnya saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama Bapak Robby Lasman membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Ilmu yang diberikan Pak Robby sa ngat luar biasa sekali bagi kami. Sebelumnya saya masih merasa sedikit bingung dengan coaching itu sendiri berikut proses yang mengikutinya . Namun setelah mengikuti Elaborasi Pemahaman saya semakin tercerahkan dengan apa sih sebenarnya coaching itu.

Dan selanjutnya  saya membuat koneksi antar materi modul 2.3, dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya peroleh dan bagaimana dengan rencana serta langkah ke depannya yang akan saya lakukan.  Seterusnya yaitu membuat rancangan aksi nyata yang berkaitan dengan supervisi akademik yang dilakukan dengan teman sejawat dan sampailah  saya melakukan test akhir modul 2 . Test ini berisikan soal-soal yang berhubungan dengan Coaching, teknik serta penerapannya.

2.    Feelings ( Perasaan )

Saya merasa antusias dan sangat semangat mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini, Saya menjadi begitu penasaran pada mulanya bagaimana menjadi coach yang baik, dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman baik tentang modul 2.3 ini .  Dari hasil praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik. Dan ternyata itu semua tidaklah mudah bagi saya akan tetapi saya akan tetap berusaha dan belajar terus menerus untyk mengasah ilmu yang telah saya peroleh .

3.    Findings ( Pembelajaran )

Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. telah memberikan  saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. Pada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya akan mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantu mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat. Dan semoga kita semua adalah orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan yang baru .

4.    Future (Penerapan )

Sebagai seorang guru, sering sekali saya menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para murid dan mungkin juga rekan sejawat. Permasalahan tersebut seringkali menjadi salah satu faktor penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya, bahkan bisa jadi mereka  tidak sadar akan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Dan ternyata coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi permasalahan tersebut. Seterusnya saya berharap nantinya praktik baik ini bisa dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehinggapada akhirnya  semua mampu menjadi coach yang baik bagi muridnya dan orang lain. Sehingga masing-masing akan mampu menampilkan potensi yang sudah dimiliki dengan langsung mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari,

Selasa, 13 Februari 2024

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN Modul 2.2 Pembelajaran Sosial dan Emosional

 




JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 2.2 PEMBELAJARAN SOSIAL DAN EMOSIONAL

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 2.2 yaitu tentang Pembelajaran Sosial dan Emosional.

Jurnal Dwi Mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 2.2 dengan model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).

Berikut adalah penjelasannya :

1.    Peristiwa (Fact)

Setelah belajar banyak tentang modul 2.1 yang fokus membahas tentang pembelajaran berdeferensiasi berupa serangkaian keputusan masuk akal yang diambil oleh guru dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa. Modul 2.2 fokus pada pembelajaran sosial emosional, sebuah pembelajaran yang dilaksanakan secara kolaboratif dengan seluruh warga sekolah. Dalam modul ini kami belajar tentang pembelajaran KSE (kompetensi sosial emosional) yang harus dimiliki seorang guru dalam mewujudkan well being. Pengkajian di LMS menggunakan alur merdeka, diawali Mulai dari Diri , Explorasi konsep, Ruang Kolaborasi, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan Aksi Nyata.


Modul 2.2 yang pertama adalah Mulai dari Diri dimulai tepatnya pada tanggal 03 November 2023 lanjut Eksplorasi Konsep pada tanggal 06 November 2023 . Selanjutnya kita mengikuti  ruang eksplorasi konsep dengan  5 kasus di dalamnya, lanjut ruang kolaborasi pada tanggal 8 November 2023 . Adapun yang kami lakukan adalah : 1.  yaitu diskusi kelompok kecil yang masing-masing sesuai jenjang, ada TK, SD, SMP, dan SMA. Diskusi ini membangun pemahaman tentang KSE yang harus dimiliki guru. Selanjutnya kami mengadakan diskusi kelompok besar di ruang kolaborasi 2 yang diadakan pada tanggal 09 November 2023 dengan kegiatan masing-masing kelompok yang sudah ditunjuk per jenjang untuk  mempresentasikan hasil diskusi di kelompok kecil dan dikhiri dengan unggah tugas ruang kolaborasi. setelah itu  demonstrasi kontekstual, eksplorasi pemahaman, koneksi antar materi aksi nyata dan penutup.

2.    Perasaan (Feeling)

Selama belajar modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional, saya merasa sangat senang dan bersemangat mendapatkan ilmu yang luar biasa. Ilmu tersebut saya terapkan baik untuk saya pribadi sebagai seorang guru yang langsung  berhadapan dengan murid-murid dengan berbagai karakter yang berbeda beda. Saat  ini saya menjadi lebih paham untuk bertindak, apa yang seharusnya saya lakukan jika menjumpai kelas yang tidak kondusif. Menumbuhkan iklim dikelas. Awalnya, bagi saya sangatlah tidak mudah,   namun dengan dibekali pembelajaran di modul 2.2, ini ada banyak hal yang tercerahkan. Sehingga lebih mudah untuk mengatasi apabila ada sesuatu hal yang terjadi .

Pembelajaran sosial emosional sangat berpengaruh besar dalam proses belajar mengajar dan berpengaruh terhadap hasil belajar murid (tujuan pembelajaran). Saya selaku pendidik juga telah mengimplementasikan dalam pembelajaran sebagai aksi nyata di kelas maupun lingkungan sekolah kami. Selain itu saya akan berbagi praktek baik terhadap rekan-rekan guru di sekolah dan wilayah setempat. Agar ilmu yang saya peroleh juga bermanfaat bagi sesama rekan guru yang ada . Sehingga nantinya bisa bersama-sama merasakan dampak positif dari ilmu yang diperoleh .  



(Foto : Suasana pembelajaran yang menyenangkan )

3.    Pembelajaran (FINDINGS)

Hal yang sangat bermanfaat bagi guru pada pembelajaran sosial dan emosional yaitu adanya 5 kompetensi sosial dan emosional :

1.    Kesadaran diri

2.    Manajemen diri.

3.    Kesadaran sosial.

4.    Ketrampilan berelasi.

5.    Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Seorang guru mampu mengendalikan emosinya pada situasi bagaimanapun, kapan saja dan dimana saja, Artinya seorang guru juga dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan sosial emosional di sekolah. Guru dituntut agar mempunyai kesadaran penuh (Mindfullness). Sedangkan bagi murid setelah belajar sosial emosional hal yang paling penting mereka dapat mengenali emosional masing masing/mampu berexpresi secara terbuka  dan mampu mengendalikan perasaanya. Murid-murid juga harus terbiasa bersosial terhadap lingkungannya, dan menjadi semangat dalam belajar.





4.    Penerapan (Future)

Umpan balik bagi saya, berupa bisa menerapkan KSE ini dalam pembelajaran exsplisit, terintegrasi dalam RPP , meningkatkan iklim kelas dan PTK di sekolah, sehingga tercapainya pembelajarang yang menyenangkan serta mewujudkan kesejahteraan psikologis anak. Sehingga suasana belajar akan menjadi lebih kondusif dan bahagia. Sebagaimana tujuan dari merdeka belajar itu sendiri.

Yang ingin saya tingkatkan adalah:

·       Saya akan lebih fokus kepada ketrampilan berelasi. Artinya saya akan berkolaborasi dengan siswa-siswa di kelas, pendidik dan tenaga kependidikan dalam membangun iklim kelas dan sekolah. Sehingga mampu membawa perubahan yang positif untuk sekeliling saya .

·       Saya akan merevisi kembali rancangan belajar  dan pelaksanaan pembelajaran dengan mengimplementasikan pembelajaran sosial dan emosional.

 



·       Saya akan sering merefleksikan proses pembelajaran untuk mengukur sudah sejauh mana keberhasilan dari ilmu yang sudah saya terima dan dapat dijadikan perbaikan ke depannya untuk pendidikan yang lebih baik lagi .  

JURNAL RELEKSI DWI MINGGUAN Modul 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

 






JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 2.1 PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

 

Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 2.1 yaitu tentang Pembelajaran Berdiferensiasi .

 

Berikut adalah jurnal refleksi dwi mingguan saya di modul 2.1 mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Dalam refleksi dwimingguan ini, saya menggunakan 4F  yaitu Facts, Feelings, Findings, Future, dan Fact.

1.  Fact (Fakta)

Pembelajaran modul 2.1 dimulai pada tanggal 20 Oktober 2023 dengan pretest sebagai kegiatan awal. Dimana hal ini dilakukan untuk mengukur kemampuan awal peserta .  Pada permulaan modul 2.1, ada bagian yang membahas tentang refleksi diri mengenai kondisi kelas yang saya ajar saat ini, dimana saya diminta untuk menjelaskan tantangan-tantangan yang muncul selama proses pembelajaran di kelas dan upaya apa saja yang telah saya lakukan untuk mengatasi tantangan tersebut.

Selanjutnya, pada tahap eksplorasi konsep, saya membuat diagram frayer untuk menggambarkan pemahaman saya tentang pembelajaran berdiferensiasi.

Dalam ruang kolaborasi yang diadakan pada tanggal 25 Oktober 2023 pukul 13.00 – 15.15 dipandu langsung oleh Ibu Nartianis sebagai fasilitator. Kami dibagi menjadi beberapa kelompok . Dan kebetulan kelompok kami hanya 2 orang saja anggotanya . Kami diberikan tugas untuk menganalisis sebuah kasus di SMK. Dari analisis tersebut, kami menyimpulkan bahwa meskipun dalam situasi pembelajaran jarak jauh, tokoh Pak Ceta sebagai guru SMK tetap melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi.

Saat Demonstrasi Kontekstual, saya menyusun RPP untuk pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran Bahasa Inggris.

Dalam sesi elaborasi, saya sangat bersyukur karena mendapat panduan yang sangat jelas dari instruktur yang luar biasa, Bapak Ali Mutaqin, M.Pd.I. Beliau memberikan gambaran yang sangat terperinci tentang penerapan pembelajaran berdiferensiasi di kelas. Sehingga saya juga semakin tau dan paham terkait materi tersebut.

Ketika saya menyusun koneksi antar materi, saya menyadari bahwa semua materi yang telah saya pelajari dari modul 1.1 hingga 2.1 ternyata sangat erat kaitannya dengan prinsip keberpihakan proses pendidikan kepada para murid.

Dan sebagai tindakan nyata yang telah saya lakukan, saya telah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada kelas XII MIPA 2 dalam pelajaran Bahasa Inggris. Dan hal tersebut menjadi Aksi Nyata saya sebagai wujud pemahaman saya terhadap modul ini.

 

Feelings (Perasaan)

Saya merasa sangat beruntung karena memperoleh pengetahuan baru yang sangat berharga dan berdampak besar tentunya pada peran saya sebagai seorang guru. Modul 2.1 telah memberikan wawasan yang luas mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Di dalam modul ini, saya meraih pemahaman yang luar biasa mengenai konsep baru yang mendorong semangat saya dalam menerapkan semua yang telah saya pelajari.

Saya merasa sangat terinspirasi oleh ilmu-ilmu baru yang telah saya dapatkan dalam modul ini. Diskusi yang dilakukan dalam forum ruang kolaborasi dan sesi elaborasi telah memperdalam pemahaman saya tentang cara mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi. Saya berharap bahwa dengan pemahaman ini, saya dapat konsisten dalam menjalankan pembelajaran yang berfokus pada kepentingan siswa.

 

Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas demi memenuhi kebutuhan belajar individu murid. Menurut Tomlinson (1999:14), dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, guru secara konsisten berupaya merespons kebutuhan belajar murid.

Dalam mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi, guru harus mempertimbangkan pertimbangan yang masuk akal. Ini meliputi tujuan pembelajaran yang didefinisikan dengan jelas, bagaimana guru merespon kebutuhan belajar murid, lingkungan belajar yang memotivasi murid, manajemen kelas yang efektif, dan penilaian yang berkelanjutan.

Ada 3 aspek yang mengkategorikan kebutuhan murid, yakni:

Kesiapan belajar

Kesiapan belajar adalah adalah kapasitas untuk mempelajari materi, konsep, atau keterampilan baru.

Minat

Minat adalah suatu keadaan mental yang menghasilkan respons terarah kepada suatu situasi atau objek tertentu yang menyenangkan dan memberikan kepuasan diri.

Profil belajar.

Profil Belajar mengacu pada cara-cara bagaimana kita sebagai individu paling baik belajar.

 

Strategi diferensiasi ada 3, yakni diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.

  • Diferensiasi konten saya mengacu pada pemetaan kebutuhan murid. Guru menyajikan beragam media pembelajaran sesuai dengan kebutuhan murid
  • Diferensiasi proses mengacu pada bagaimana jalannya sebuah pembelajaran berdasarkan gaya belajar.
  • Diferensiasi produk mengacu pada produk yang dihasilkan sebagai unjuk kerja sesuai dengan kemampuan murid.

 

Future (Penerapan)

Setelah mempelajari modul ini, saya berencana untuk melakukan tes diagnostik menggunakan kuisioner, menganalisis data yang sudah ada, atau melakukan wawancara untuk memahami kebutuhan individu murid di kelas. Saya akan merencanakan dan mengimplementasikan pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan kebutuhan mereka. Saya juga akan aktif berkolaborasi dengan rekan sejawat yang memiliki pengalaman dalam pembelajaran berdiferensiasi, serta berusaha menggandeng guru produktif untuk menyelaraskan materi yang dibutuhkan. Dalam praktek sehari-hari, saya akan mengimplementasikan praktik baik ini untuk mengutamakan keberpihakan pada murid dalam lingkungan sekolah.

JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN MODUL 1.4 BUDAYA POSITIF

 




JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN

MODUL 1.4. BUDAYA POSITIF

Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu

  Assalamualaikum Wr,Wb

Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi modul 1.4 yaitu tentang Budaya Positif.

Seperti biasanya setelah mengikuti proses pembelajaran dan menyelesaikan berbagai tugas maka untuk menggambarkan modul 1.4 dan ini merupakan tugas setelah berakhirnya modul yang dipelajari sebagai seorang Calon Guru Penggerak. Bagaimana pengalaman selama proses pembelajaran dan perasaan selama mempelajari modul 1.4 saya sampaikan dalam tulisan ini.

Pelajaran dalam modul 1.4 ini telah selesai dan  saya akan menceritakan refleksi seperti biasanya dengan menggunakan model 4F yang dapat diterjemahkan model 4P yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway yaitu:

1.      Facts( Peristiwa)

2.      Feelings ( Perasaan)

3.      Findings ( Pembelajaran)

4.      Future ( Penerapan )

Saya akan tuliskan satu persatu pengalaman dan refleksi saya:

1.      Facts(Peristiwa)

Setelah mempelajari modul 1.3 tentang Visi Guru Penggerak dan dilanjutkan ke modul 1.4 tentang Budaya Positif. Sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dimana pembelajaran modul 1.4 sudah dimulai pada tanggal 29 September 2023 dengan dibuka oleh Mulai dari Diri dan mempelajari materi  eksplorasi konsep yang dipelajari secara mandiri. Pada modul 1.4 tentang Budaya Positif ini banyak ilmu baru yang saya pelajari. Dimulai dengan Mulai dari diri dengan mempelajari sub modul dengan tujuan pembelajaran khusus mengaktifkan pengetahuan awal apa yang telah dipelajari sebelumnya tentang konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara dihubungkan dengan konsep lingkungan dan budaya positif di sekolah. Kemudian dilanjut ke sub modul Eksplorasi konsep yang mencakup beberapa bagian yaitu : Disiplin positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, Lima Posisi Kontrol,teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Segitiga Restitusi.

Pada tanggal 06 Oktober 2023 kami bertemu di ruang kolaborasi yang didampingi dengan fasilitator Ibu Nartianis mulai pukul 13.00 – 15.15 membahas tentang beberapa kasus anak. Kami dibagi menjadi 3 kelompok untuk memecahkan permasalahan yang ada dengan menyelesaikan kasus tersebut dengan segitiga restitusi, serta menjelaskan posisi kontrol. Diskusi berjalan dengan baik, dan hasil diskusi akan dipresentasikan pada hari berikutnya. Ruang kolaborasi dilanjutkan pada hari berikutnya yaitu pada tanggal 09 Oktober 2023 , pada pertemuan ini setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi pada pertemuan sebelumnya. Diskusi berjalan begitu semangat, dimana setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dengan sangat menarik, dan perdebatan pendapat yang begitu sengit. Akan tetapi itu semua biasa dalam proses pembelajaran kami pada saat presentasi kelompok . Ibu Nartianis terlihat  begitu senang melihat pembelajaran siang itu, karena kami belajar dengan begitu semangat. Kemudian hasil video presentasi tugas kami yang berasal dari  hasil diskusi , kami kirim ke LMS.

Setelah itu kami mendalami materi bersama instruktur Ibu Fitriani Ratnasari Dewi   di Elaborasi Pemahaman pada tanggal 13 Oktober 2023. Pemahaman saya menjadi bertambah jelas setelah mendapat pencerahan dari instruktur. Kemudian lanjut saya mengerjakan  tugas  membuat Koneksi antar materi, dimana saya harus mengaitkan materi sebelumnya dengan materi sekarang. Dan di akhiri dengan membuat Aksi Nyata. Dengan harapan setelah mempelajari sub-sub modul tersebut Calon Guru Penggerak akan mampu menjadi motor penggerak perubahan budaya positif di satuan Pendidikan masing-masing dengan berkolaborasi bersama para pemangku kepentingan agar tercipta ekosistem sekolah yang lebih berpihak pada murid sesuai dengan cita-cita luhur Ki Hadjar Dewantara.

2.      Feelings ( Perasaan )

Perasaan saya selama mempelajari modul 1.4 tentang Budaya Positif ini adalah senang dan menjadi semakin termotivasi untuk lebih semangat dalam menjalankan Pendidikan Guru Penggerak. Selain itu saya juga bersemangat dalam menerapkan dan menjalankan budaya positif yang diterapkan di kelas dan di sekolah. Semangat dan motivasi saya ini akan membuat aura positif dalam menjalankan budaya positif di kelas dan di lingkungan sekolah. Penerapan patuh terhadap peraturan, penerapan budaya 5S dengan motivasi internal, siswa dengan kesadarannya sendiri melakukan budaya positif.

Penerapan posisi kontrol juga menjadi perhatian bagi saya, Alhamdulillah dengan mendapatkan materi posisi control saya lebih bisa mengahdapi siswa lebih baik. Biasanya posisi control penghukum yang sering saya jalankan, dengan mendapat pencerahan ini saya berusaha posisi control meneger.

3.      Findings ( Pembelajaran)

Pembelajaran bermakna yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.4 adalah bahwa sebagai calon guru penggerak harus mampu menempatkan diri dalam posisi kontrol yang tepat dalam penerapan budaya positif disekolah yaitu posisi kontrol sebagai manajer dengan menerapkan segitiga restitusi sebagai solusi ketika ada murid yang melanggar keyakinan kelas. Kenapa dengan segitiga restitusi? karena dengan melakukan penyelesaian masalah menggunakan restitusi menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Dan saya merasakan hal tersebut memang benar adanya, menyelesaikan masalah dengan hukuman ternyata tidak dapat menyelesaikan masalah justru akan membuat keadaan semakin rumit. Segitiga restitusi adalah penyelesaiannya. Dengan segitiga restitusi masalah selesai dengan damai dan anak-anak pun tidak kehilangan identitas mereka, justru mereka Kembali dengan karakter yang lebih kuat, kokoh  dan lebih baik.

4.      Future ( Penerapan)

Setelah mempelajari modul 1.4 ini yaitu tentang budaya posistif maka saya lebih paham tentang Disiplin positif dan Nilai-nilai Kebajikan Universal, Lima Posisi Kontrol,teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi, Kebutuhan Dasar Manusia dan Dunia Berkualitas, Segitiga Restitusi. Perubahan yang saya rasakan adalah saya merasa harus tergerak, bergerak dan menggerakkan orang-orang yang ada di sekitar saya untuk segera mengetahui materi yang saya dapatkan ini. Hal yang akan saya lakukan untuk melakukan perubahan yang positif dengan lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik, menggunakan posisi kontrol sebagai manager dalam menangani kasus siswa, menerapkan segitiga restitusi dan selalu menganalisis secara reflektif dan kritis penerapan budaya positif disekolah dengan berkolaborasi dengan warga sekolah dan berbagai pemangku kepentingan, walau hal tersebut  memerlukan waktu yang tidak sebentar karena melakukan perubahan yang sudah menjadi kebiasaan tidak lah mudah. Tapi kita harus bergerak menuju perubahan yang lebih baik.

 

KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1 TENTANG PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN


Assalamualaikum blogger mania , pada kesempatan kali ini saya akan membuat rangkuman selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak khususnya Modul 3.1 ini. 

Saya Rosdiana Shadiqin, S.Pd

CGP Angkatan 9 

SMAN 3 Tambusai Utara Kabupaten  Rokan Hulu Provinsi Riau 

         Berikut adalah  Rangkuman Kesimpulan Pembelajaran ( Koneksi Antar materi Modul 3.1 )  

- Bagaimana Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin ?

Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madya Mangunkarsa, Tut Wuri handayani memiliki makna yang sangat mendalam,  yang tentunya dapat kita jadikan landasan dalam setiap pengambilan keputusan, yaitu keputusan yang selalu berpihak kepada murid. Sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan seharusnya:

1. memberikan teladan dan contoh akan keputusan yang bijak,menjadi teladan yang patut ditiru (Ing          Ngarso Sung Tulodo).

2. mampu memberdayakan dan membangun kerukunan, menyemangati, membuat orang lain memiliki      kekuatan demi memperbaiki kualitas diri mereka (Ing Madya Mangun Karsa)

3. mampu mempengaruhi dan mendorong semangat meningkatkan kualits agara selalu menjadi lebih          baik(Tut Wuri Handayani)

Kaitannya dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin adalah bahwa filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memberikan pandangan yang holistik terhadap pengambilan keputusan. Seorang pemimpin yang memahami dan menerapkan filosofi Ki Hajar Dewantara akan memperhatikan tidak hanya aspek logis dan pragmatis dari sebuah keputusan, tetapi juga nilai-nilai etis dan estetis yang terlibat. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek ini secara seimbang, seorang pemimpin dapat membuat keputusan yang tidak hanya efektif secara praktis, tetapi juga bermakna secara moral dan estetis, yang selaras dengan kebutuhan masyarakat dan nilai-nilai yang dipegang teguh.

- Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita memiliki pengaruh yang besar terhadap prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan keputusan. Nilai-nilai ini membentuk dasar moral dan etika yang menjadi panduan dalam menentukan tindakan dan keputusan yang kita buat. Kita  sebagai pendidik harus memiliki nilai-nilai positif yang hendaknya mampu menciptakan pembelajaran yang berpihak pada murid . Seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan sesuai dengan situasi yang dihadapi dengan tetap mempertimbangkan 3 prinsip dalam pengambilan keputusan.

Dengan memahami nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, kita dapat mengidentifikasi prinsip-prinsip yang penting bagi kita dalam pengambilan keputusan. Hal ini memungkinkan kita untuk membuat keputusan yang konsisten dengan integritas pribadi dan tujuan hidup yang kita anut. Selain itu, kesadaran akan nilai-nilai ini juga membantu kita untuk menghindari konflik moral dan membuat keputusan yang lebih bijaksana dalam berbagai situasi kehidupan.

- Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Dalam materi pengambilan keputusan yang dipelajari sangat memiliki hubungan yang erat dengan kegiatan coaching (bimbingan) pada modul sebelumnya. Pada proses coaching kita membentuk coachee dalam menentukan atau mengambil sebuah  keputusan sedangkan pada modul ini kita merefleksikan apakah keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan .   Apakah keputusan tersebut menjadi win-win solution ataukah justru akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Dalam pembelajaran pengambilan keputusan ini kita diberikan panduan tentang 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengujiaan keputusan yang kita ambil. Agar keputusan yang didapat nantinya merupakan sebuah keputusan yang baik bagi semua pihak . Melalui sesi coaching yang terstruktur dan mendalam, peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang proses pengambilan keputusan mereka, mengidentifikasi area-area yang perlu diperbaiki, dan mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.

- Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?

Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosional sangatlah penting terutama dalam mengelola kasus dilema etika. Guru yang memiliki kemampuan dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya pastinya akan memiliki kesadaran diri untuk memahami perasaan, emosi dan nilai diri senidiri, memiliki manajemen diri sehingga mampu mengelola emosi dan perilaku, memiliki kasadaran sosial sehingga mampu memahami sudut pandang dan dapat berempati dengan orang lain, memiliki keterampilan berelasi sehingga dapat berkomunikasi dengan lebih efektif, dan dapat mengambil keputusan yang bertanggungJawab. Masalah yang terkait dilema etika akan diselesaikan dengan kepala dingin dan hati yang tenang, sehingga pengambilan keputusan dapat berjalan sesuai dengan langkah yang sistematis. Dan tentunya tidak keluar dari rambu-rambu yang ada. 

- Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?

Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilema etika ataukah bujukan moral. Seorang pendidik ketika dihadapkan dengan kasus-kasus yang fokus terhadap masalah moral dan etika, baik secara sadar atau pun tidak akan terpengaruh oleh nilai-nilai yang dianutnya. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir kebutuhan murid dan menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan jika nilai-nilai yang dianutnya adalah nilai-nilai yang positif.

- Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan yang tepat, tentunya akan berdampak positif pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Pengambilan keputusan yang tepat harus dilakukan dengan cara yang tepat pula. Disesuaikan dengan situasi yang terjadi dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal, berpihak pada murid dan dapat dipertanggungjawabkan. Saat keputusan yang diambil sudah tepat. maka akan tercipta lingkungan yang positif. kondusif. aman dan nyaman. tidak ada pihak yang merasa dirugikan, semua akan mendapatkan solusi atas permasalah yang dihadapi.

- Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus yang sifatnya dilema etika adalah perasaan tidak enak yang timbul karena tentunya tidak dapat memuaskan semua pihak. Namun dengan berpedoman pada 4 paradigma, 3 prinsip serta mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan dapat meminimalisir perasaan tidak nyaman, tidak enak dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak.

- Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?

Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid kita adalah terciptanya merdeka belajar. Keputusan untuk memerdekakan murid merupakan proses untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Untuk memutuskan pemenuhan belajar murid, bisa menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar murid itu sendiri. 

- Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran pasti akan membawa dampak, baik jangka panjang maupun pendek bagi murid. Hal yang sudah kita putuskan dan kita lakukan akan  terekam menjadi suatu catatan dan akan menjadikan role model atau contoh tentang apa dan bagaimana kelak murid-murid berpikir dan bertindak. Gambaran ini menjadikan dasar bahwa pengambilan keputusan oleh seorang pendidik harus tepat, benar dan bijak melalui analisis dan pengujian yang mendalam atas benar salahnya.

Dalam pengambilan kepurusan, seorang pemimpin sebaiknya menggunakan 9 langkah pengambilan keputusan dan mengacu pada pembelajaran yang memenuhi potensi murid. 


- Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

Kesimpulan yang dapat saya ambil jika mengaitkan dengan materi sebelumnya yaitu pengambilan keputusan sebaiknya mengacu pada :

  • Nilai kebajikan universal
  • Bertanggung jawab
  • Berpihak pada murid
  • Berpedoman pada filosofi KHD dengan Patrap Trilokanya (Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani
- Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?


Saya cukup memahami materi pada modul ini, sehingga pada proses penerapannya sangat membantu dalam menyelesaikan permasalahan yang ada. Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan badalah ahwa ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya didasarkan pada pemikiran dan pertimbangan semata, namun sangat diperlukan adanya paradigma, prinsip, dan langkah-langkah pengujian pengambilan keputusan, agar keputusan yang diambil tepat sasaran dan bermanfaat untuk orang banyak. Dan dalam proses pengambilan keputusan itu sendiri harus melewati proses maupun tahapan yang sangat panjang. 

- Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?

Sebelum mempelajari modul ini, dalam pengambilan keputusan saya biasanya memanfaatkan prosedur umum yang berlaku di sekolah sebagaimana biasanya dan yang telah ditetapkan bersama , yaitu berkomunikasi dengan pihak terkait seperti guru mata pelajaran, guru BK, Wakasek dan Kepala Sekolah.  Tapi dengan bahan perbincangan yang mengalir apa adanya. Setelah mempelajari modul ini, saya mencoba menerapkan analisa berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan. Perbedaannya diantaranya pola ini menjadi paket baru yang sangat rinci, hati – hati dan tidak terburu – buru dalam membuat sebuah keputusan. Selain itu, pihak yang terlibat menjadi merasa dihargai dan bisa memberi kontribusi sesuai tupoksinya masing – masing. Dan ini merupakan hal dan ilmu baru yang saya peroleh dan semoga bisa diterapkan ke depannya . 

- Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?

Perubahan terbesar yang saya alami yaitu :

1. Berhati – hati dalam bertindak dan mengambil sebuah keputusan.


2. Mempunyai pola yang teratur dalam menganalisa sebuah masalah dengan langkah-langkah maupun        prosedur yang ada 

3. Meningkatnya empati pada diri sendiri dan orang lain untuk memahami permasalahan yang terjadi          pada orang lain


4. Berpikir lebih matang dalam memutuskan sesuatu dengan menajamkan dan mengasah pola pikir kita      sendiri.

- Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Sangat penting bagi individu untuk mengembangkan keterampilan pengambilan keputusan yang efektif dan bagi pemimpin untuk memimpin dengan bijaksana, etis, dan berdaya. Ini memungkinkan mereka untuk mencapai kesuksesan dalam lingkungan yang kompleks dan dinamis dan sebagai seorang pemimpin saya harus mampu mengambil sebuah keputusan terbaik dan bertanggung jawab



Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 3.3

  JURNAL REFLEKSI   DWI MINGGUAN MODUL 3.3 PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK POSITIF PADA MURID Rosdiana Shadiqin, S.Pd CGP Angkatan ...