JURNAL REFLEKSI DWI MINGGUAN
MODUL 2.3 COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK
Rosdiana Shadiqin, S.Pd
CGP Angkatan 9 Kabupaten Rokan Hulu
Assalamualaikum Wr..Wb.. blogger mania
Kembali bertemu lagi dengan saya, Rosdiana
Shadiqin,S.Pd Calon Guru Penggerak Angkatan 9 dari SMA Negeri 3 Tambusai Utara
Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau. Pada kesempatan ini saya akan menceritakan
tentang apa yang telah saya lakukan pada pendidikan guru penggerak di materi
modul 2.3 yaitu tentang Coaching Untuk Supervisi Akademik.
Jurnal Dwi Mingguan
merupakan salah satu tugas yang harus dibuat oleh CGP. Ini merupakan refleksi
diri setelah mengikuti kegiatan pelatihan (Upgrading Skill), yang tertulis
secara rutin setiap dua minggu sekali dan wajib dilakukan oleh CGP. Di sini
saya akan merefleksikan rangkaian kegiatan selama mendalami modul 2.3 dengan
model Refleksi 4 F ( Facth, Feeling, Findings, dan Future ).
Berikut adalah
urainnya satu persatu :
1.
Facts
(Peristiwa )
Pada modul 2.3
ini, saya mencoba merefleksikan hasil dari kegiatan yang telah saya ikuti di
LMS ini dalam bentuk jurnal refleksi. Jurnal Refleksi dwi mingguan ini membahas materi pada Modul 2.3 tentang
Coaching Pada Supervisi Akademik . Dimana Jurnal refleksi ini saya tulis
sebagai media yang akan digunakan untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan
pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan. Model refleksi yang
saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future) . Dan kali
ini saya akan coba merefleksi pembelajaran dan aktivitas pembelajaran yang
telah dilakukan di Learning Management System (LMS). Kegiatan dimulai dari
modul 2.3 sampai post tes modul 2.
Ada beberapa aktivitas pembelajaran yang
dilakukan dalam modul ini yaitu diawali mulai dari 2.3 mulai dari diri pada
tanggal 17 November 2023 dimana saya membuat sebuah buah tulisan yang berisikan jawaban dari pertanyaan
pemantik yang diberikan untuk merefleksikan diri saya tentang supervisi di
sekolah saya. Kemudian masuk ke eksplorasi konsep pada tanggal 20 November 2023
modul 2,3,a,4,1 yang membahas tentang
coaching, perbedaan antara metode pengembangan diri coaching, mentoring,
konseling, fasilitasi dan training, konsep coaching secara umum, bagaimana
coaching dilakukan dalam konteks pendidikan, paradigma coaching dilihat dari
system Among yang merupakan konsep dari Ki Hajar Dewantara.
Selanjutnya
masuk ke modul 2.3.a.4.2 tentang eksplorasi paradigma berpikir coaching dan
prinsip-prinsip coaching dalam komunikasi yang memberdayakan untuk pengembangan
kompetensi, juga mengaitkan antara paradigma berpikir dan prinsip-prinsip
coaching dengan supervisi akademik, selain itu disana juga dijabarkan perbedaan
antara coaching, kolaborasi, konsultasi, dan evaluasi dalam rangka
memberdayakan rekan sejawat, dibantu dengan video percakapan coaching yang membantu
saya memahami tentang bagaimana seharusnya menjadi seorang coach yang baik.
Selanjutnya di modul 2.3.a.4.3 di Bahas tentang kompetensi inti coaching dan
TIRTA sebagai alur percakapan coaching. Alur coaching mulai dari Tujuan,
Identifikasi, Rencana aksi, dan Tanggung jawab yang diakronimkan menjadi TIRTA,
diharapkan akan seperti air yang mana komunikasi bisa mengalir, disini juga
dibahas tentang inti coaching yaitu presence kehadiran penuh yang terlihat pada
coach, dengan memberikan perhatian penuh akan apa yang disampaikan oleh
coachee, menjadi seorang pendengar aktif dengan sesekali memberikan tanggapan
atas apa yang sedang dibicarakan oleh coachee, dan dibahas tentang keterampilan
membuat pertanyaan berbobot dalam percakapan coaching, selain itu, modul ini
juga membahas tentang jalannya percakapan coaching untuk membuat rencana aksi,
coaching untuk melakukan refleksi, coaching untuk memecahkan masalah dan
coaching melakukan kalibrasi.
Diforum
diskusi eksplorasi kami saling melakukan pemantapan pemahaman dengan berdiskusi
antar CGP. Pada modul 2.3.a.5 yaitu ruang kolaborasi saya berpasangan dengan Bu
Roini melakukan sebuah percakapan coaching untuk benar-benar memberikan
pengalaman coaching secara nyata dengan teman sesama CGP, dan hasil percakapan divideokan
dan diunggah sebagai salah satu tagihan dari LMS, kemudian pada modul 2.3.a.6
demonstrasi kontekstual, kami dikelompokkan dengan beranggotakan 3 orang (Bu
Septi, saya, dan Bu Dila, kami membuat video percakapan dengan 1 CGP menjadi
observer, 1 CGP lain menjadi coach, dan 1 CGP lainnya menjadi Coachee, kami
melakukan secara bergiliran, kegiatan ini menambah pemahaman kami tentang
bagaimana seharusnya menjadi observer, apa yang perlu diperhatikan pada saat
pra observasi, saat observasi dan pasca observasi.
Selanjutnya
saya belajar modul 2.3.a.7 yaitu elaborasi pemahaman bersama Bapak Robby Lasman
membahas tentang coaching dan supervisi akademik lebih dalam lagi. Ilmu yang
diberikan Pak Robby sa ngat luar biasa sekali bagi kami. Sebelumnya saya masih
merasa sedikit bingung dengan coaching itu sendiri berikut proses yang mengikutinya
. Namun setelah mengikuti Elaborasi Pemahaman saya semakin tercerahkan dengan
apa sih sebenarnya coaching itu.
Dan selanjutnya
saya membuat koneksi antar materi modul
2.3, dengan memberikan refleksi saya dengan apa yang saya peroleh dan bagaimana
dengan rencana serta langkah ke depannya yang akan saya lakukan. Seterusnya yaitu membuat rancangan aksi nyata
yang berkaitan dengan supervisi akademik yang dilakukan dengan teman sejawat
dan sampailah saya melakukan test akhir
modul 2 . Test ini berisikan soal-soal yang berhubungan dengan Coaching, teknik
serta penerapannya.
2. Feelings ( Perasaan )
Saya merasa antusias dan sangat semangat
mengikuti aktivitas pembelajaran tentang coaching ini. Pada modul 2.3. ini,
Saya menjadi begitu penasaran pada mulanya bagaimana menjadi coach yang baik,
dan kemudian merasa senang sekali karena semuanya terjawab di modul ini
ditambah dengan beberapa praktik langsung bersama para CGP membuat pemahaman
baik tentang modul 2.3 ini . Dari hasil
praktik saya merasa masih banyak kekurangan sehingga merasa bersemangat untuk
belajar lagi dan berusaha memahami tentang coaching, bagaimana membuat
pertanyaan berbobot, dan bagaimana bersikap sebagai coach yang baik. Dan
ternyata itu semua tidaklah mudah bagi saya akan tetapi saya akan tetap
berusaha dan belajar terus menerus untyk mengasah ilmu yang telah saya peroleh
.
3. Findings ( Pembelajaran )
Informasi, pengetahuan dan pengalaman baru pada modul 2.3. telah memberikan saya banyak pengetahuan dan pembelajaran yang banyak tentang bagaimana menjadi coaching yang baik dan bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik yang dapat membantu pengembangan diri rekan sejawat. Pada fase ini saya diajak untuk meninjau ulang keseluruhan materi pembelajaran di Modul yang pernah saya dapati mulai dari konsep Ki Hajar Dewantara tentang tujuan pembelajaran, tentang peran dan nilai guru penggerak, tentang pembelajaran berdiferensiasi yang berkaitan juga dengan Pembelajaran Sosial dan Emosional yang semuanya berkaitan dengan coaching dan supervise akademik, di modul ini juga saya akan mencoba merancang sebuah aksi nyata supervisi akademik terhadap rekan sejawat, untuk membantu mengembangkan kemampuan diri rekan sejawat. Dan semoga kita semua adalah orang-orang yang haus akan ilmu pengetahuan yang baru .
4.
Future (Penerapan )
Sebagai seorang guru, sering sekali saya
menjumpai banyak permasalahan di lapangan yang terkait dengan potensi para
murid dan mungkin juga rekan sejawat. Permasalahan tersebut seringkali menjadi
salah satu faktor penghambat kemajuan seseorang dalam mencapai tujuannya,
bahkan bisa jadi mereka tidak sadar akan
kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki untuk menyelesaikan permasalahannya. Dan
ternyata coaching sangat perlu dilakukan untuk bisa membantu mengatasi
permasalahan tersebut. Seterusnya saya berharap nantinya praktik baik ini bisa
dilakukan juga oleh rekan sejawat lainnya. Sehinggapada akhirnya semua mampu menjadi coach yang baik bagi
muridnya dan orang lain. Sehingga masing-masing akan mampu menampilkan potensi
yang sudah dimiliki dengan langsung mempraktekannya dalam kehidupan
sehari-hari,







